Renungan Malam Ini: “SUAP, PENYAKIT YANG PERLU DIAMPUTASI” Suap penyakit sosial yang sudah akut di tengah masyarakat, hampir semua institusi yang berkaitan dengan penyelenggraan kepentingan umum atau katakanlah segala pekerjaan yang membutuhkan pelayanan dari institusi pemerintah sulit untuk menentukan bahwa di tempat tersebut tidak ada praktik kotor penyuapan atau transaksi “suap”, sehingga secara goyon teman saya dalam diskusi ringan mengatakan bahwa jika manusia itu masih perlu makan lewat mulut, pasti ada pekerjaan suap disitu…ya betul juga yang namanya makan pasti ada kata suap. Ini beda dengan suap ketika sedang makan, atau seorang ibu dengan tabah dan penuh kasih sayang menyuapi anaknya, bahkan ibu-ibu muda pagi atau sore hari dapat dilihat banyak melakukan ini bahkan sampai jalan-jalan diteras rumah, sambil belanja kewarung, atau sambil bernyanyi-nyanyi mengindung anaknya sembari menyuapinya dengan nasi dan lauk pauknya, kalau seperti ini jelas dianjurkan...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Renungan Pagi ini: MEWUJUDKAN DPR YANG IDEAL I. Sistem pemerintahan presidensial merupakan pilihan yang tepat bagi Indonesia, walaupun system ini bersifat ambigu atau istilah kerenya “quasi”, hal ini dibandingkan dengan sitem parlementer yang selalu ditekankan kepada kekuatan partai politik yang tidak mengakar dan belum mempunyai landasan ideologis sebagai pedoman akibatnya flatpond partai politik selalu berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang dianggab menguntungkan pada saat itu, sehingga stabilitas politik sering terganggu oleh keinginan-keinginan politik sesaat. 20 tahun awal Indonesia merdeka dengan system parlementer, benar-benar menguras energy system politik Indonesia, jatuh bangunya pemerintahan dan tidak ada satupun pemerintahan yang langgeng sampai lima tahun bahkan ada yang hanya beberapa bulan saja. Sebenarnya itulah penyimpangan pertama dari nilai-nilai demokrasi Pancasila yang telah direnungkan oleh founthing fathers bangsa ini yang sudah tepat memilih ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Renungan Malam ini: “KESALEHAN HUKUM” Kesalehan hukum pada dasarnya dapat dikaitkan sebagai ketaatan terhadap hukum, istilah ini sebenarnya sudah terdengar lama dan sempat dilontarkan oleh Cak Nur (Nurcholis majid, 1992), namun sayang tidak begitu populer di tengah masyarakat termasuk juga di kalangan orang hukum sendiri, beda dengan istilah “Kesalehan individu, kesalehan sosial bahkan juga ada istilah kesalehan ekonomi” orang pada mahfum. Lalu kenapa kesalehan hukum tidak sempat booming padahal, biasanya pernyataan sekelas Cak Nur selalu hangat diperbincangkan orang baik yang pro maupun yang kontra, maklum tokoh ini memang lontaranya kalau kita pinjam istilah “pulgar” Ruhut Sitompul seorang politikus yang juga praktisi hukum dan menyambi sebagai artis yang jelas sekarang beliau juga menjadi bintang di acara ILC yang diasuh wartawan senior Bang Karni Ilyas, istilahnya “sedap-sedap nikmat”. Ya kira-kira begitulah, sedap untuk dinimkati asyik untuk diamati. Pernyata...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
CERITE RAKYAT NAGE DEDAUP EDISI KE-31. “NERAIKAH AJIAN SENAMAN MONTALAT” Pengantar Redaksi: Pertame-tame aku mohon maaf ngah adik sanak sedakdenye, telambat nyambungkah cerite bahaghi ni, dide lemak agi kalu lah lame teputus cerite Nage Dedaup. Maklumlah edisi ke-30 la di tulis tanggal 5 Agustus 2016 ye lalu mapi malam ini pule pacak kusambung nga edisi ke-31, lebih sebulan, maklum banyak kiamat ye ndak dikerjekah, nah adik sanak jangan kecik ati, aku sambungkah agi ceritenye. Luk lah diceritekah di edisi ke-30, Pangeran Nage Dedaup lah nuntut ilmu ye tekenal sakti di mance negare tu, lah udim, ngah mbak kini Nage dedaup lah balik jak di Sungai Barito, mangke nyambung dikit ceritenye aku kitipkah dikit ujung cerite ye mpai udim, luk ini kalimat ujungnye: “…Kalu luk itu…kate Nage Nabau…aku senang ati nurunkah ilmu Senaman Montalat ni, kalu kabah lah siap nerimenye…malam kele kite mangkal guruan (mulai belajar), …malam kele kabah sehempak saje belajagh ngah anaku pan...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Reningan Pagi ini: “Penghematan atau Pencitraan” Penghematan pada prinsipnya bukan menuda pengeluaran anggaran apalagi harus membatalkannya, makna penghematan dalam tataran belanja Negara adalah berkaitan dengan skala prioritas dan manfaat yang akan didapat dari penghematan tersebut. Berarti penghematan tidak bisa dengan cara pukul rata mengurangi anggaran tanpa di hitung dengan dua ukuran di atas, ini pendapat saya kalau orang politik, orang ekonomi atau orang awak skalipun saya nggak tahu, saya hanya merenung saja pagi ini dan saya tulis, ini kan perintah tuhan “Baca dan tulislah” bukan Baca saja, ini juga pemahaman saya terhadap ayat pertama Allah Turunkan kepada sang Manusia Paripurna Muhammad SAW. Jadi penghematan memang perlu dan harus terus dilaksanakan pepatah lama masih berlaku “Hemat pangkal kaya” dan orang kaya pasti dapat membantu saudaranya yang membutuhkan itupun kalau orang kaya baik hati, mau berbagi, mudah memberi dan tidak pelit. Disetiap lini keh...
“DAU dipangkas Rp. 193 M. Warning untuk Pemprov”
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Imam Mahdi August 28 at 10:35pm · Renungan Malm ini: “DAU dipangkas Rp. 193 M. Warning untuk Pemprov” Pertama saya mohon izin memakai judul tersebut, kalimat itu adalah judul berita yang ditulis oleh Harian Rakyat Bengkulu (RB), 25 Agustus 2016, harian RB adalah Koran pagi terbesar di Bengkulu dan salah satu Koran Daerah yang terbaik di Indonesia, yang kadang-kadang menjadi brain warning saya, sebelum mengerjakan tugas rutin. Saya izin pakai judulnya, karena beberapa alasan, pertama: judul tersebut sangat komunikatif dan membahana bagi warga Bengkulu terutama bagi stakes holders di lingkungan Pemerintah Provinsi Bengkulu, dan orang-orang yang peduli Bengkulu, Kedua: ada kata warning dalam judul tersebut artinya peringatan, bisa juga tegoran agar berhati-hati. Dulu bapak saya, paling suka merokok warning, katanya tembakaunya enak dan hangat (apanya yang enak atau hangat, saya coba sedikit kepala saya jadi puyeng…maklum tidak b...